No. 238 EKAPADA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [236] “Beri tahukanlah kepadaku,” dan seterusnya.— Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang saudagar. Dikatakan bahwasanya hiduplah seorang saudagar di Sāvatthi (Savatthi). Pada suatu hari, ketika sedang duduk di pangkuannya, putranya bertanya kepadanya pertanyaan “pintu”156. Dia membalas, “Pertanyaan ini hanya bisa dijawab […]
Baca selengkapnya...EMPAT JENIS ATAU TINGKATAN MANUSIA Jika diperhatikan dengan saksama, ada empat tingkatan bunga teratai pada gambar diatas yang melambangkan empat jenis manusia yaitu : 1. Para jenius (ugghatitaññu) 2. Para intelektual (vipacitaññu) 3. Mereka yang dapat dilatih (neyya) 4. Mereka yang tidak dapat dilatih (padaparama) An. Ca. 21/183 KETERANGAN
Baca selengkapnya...No. 235 VACCHA-NAKHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Kehidupan duniawi adalah kebahagiaan,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Roja, seorang Malla153. Dikatakan bahwasanya laki-laki ini, yang merupakan seorang teman perumah tangga dari Ānanda (Ananda), mengirimkan pesan kepada sang thera agar beliau datang ke tempatnya. Sang thera meminta izin dari […]
Baca selengkapnya...No. 234 ASITĀBHŪ-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sekarang nafsu telah tiada,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang gadis. Dikatakan bahwasanya di Sāvatthi, di dalam sebuah keluarga yang menopang kehidupan dua orang siswa utama (aggasāvaka) Sang Buddha, terdapat seorang gadis yang berparas elok dan bersinar cemerlang. Ketika dewasa, […]
Baca selengkapnya...No. 233 VIKAṆṆAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [227] “Panah itu masih berada di punggungmu,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Dia dibawa ke dalam balai kebenaran dan ditanya apakah benar bahwasanya dia menyesal, yang kemudian diakuinya. Ketika ditanyakan alasannya, dia menjawab, “Disebabkan oleh nafsu […]
Baca selengkapnya...No. 232 VĪṆĀ-THŪṆA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Pemikiranmu sendiri,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang gadis. Dia adalah putri semata wayang dari seorang saudagar kaya di Sāvatthi (Savatthi). Dia memperhatikan bahwa di rumah ayahnya, suatu kehebohan terjadi karena seekor sapi, dan menanyakan kepada perawatnya apa yang sebenarnya […]
Baca selengkapnya...No. 231 UPĀHANA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seperti ketika sepasang sepatu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Veḷuvana 149 (Veluvana), tentang Devadatta. Para bhikkhu berkumpul bersama di dalam balai kebenaran dan mulai membicarakan masalah tersebut. “Āvuso, setelah mengingkari gurunya dan menjadi musuh dan lawan dari Sang Tathāgata, akhirnya Devadatta […]
Baca selengkapnya...No. 230 DUTIYA-PALĀYI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Panji-panjiku tak terhitung,” dan seterusnya.—[219] Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang petapa pengembara yang melarikan diri. Kala itu, dikelilingi oleh rombongan orang banyak, duduk pada tempat duduk kebenaran (dhammāsana), di permukaan berwarna merah, Sang Guru memaparkan khotbah Dhamma, seperti seekor singa yang […]
Baca selengkapnya...No. 229 PALĀYI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Pasukan-pasukan bergajah,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang petapa pengembara yang melarikan diri. Dia mengembara ke seluruh Jambudīpa (India) dengan tujuan berdebat, dan tidak menemukan siapa pun untuk menantangnya. Kemudian dia mengembara sampai di Sāvatthi (Savatthi) dan menanyakan apakah ada […]
Baca selengkapnya...No. 228 KĀMANĪTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tiga kota,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang brahmana yang bernama Kāmanīta (Kamanita). Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Buku Kedua belas, dan juga di dalam Kāma-Jātaka145. ____________________ Raja Benares memiliki dua orang putra. Dari kedua putra tersebut, putra sulungnya […]
Baca selengkapnya...