No. 256 JARUDAPĀNA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Beberapa saudagar,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang beberapa saudagar yang tinggal di Sāvatthi (Savatthi). Dikatakan bahwa para saudagar ini mendapatkan stok barang-barang dagangan di Savatthi, yang kemudian mereka kemas ke dalam kereta. Ketika tiba waktunya bagi mereka untuk menjalankan usaha […]
Baca selengkapnya...No. 255 SUKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Di saat burung itu,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang meninggal karena makan terlalu banyak. [292] Setelah dia meninggal, para bhikkhu berkumpul bersama di dalam balai kebenaran dan membahas keburukannya, “Āvuso, bhikkhu anu tidak memedulikan berapa banyak yang […]
Baca selengkapnya...No. 254 KUṆḌAKA-KUCCHI-SINDHAVA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Rerumputan dan bubuk merah,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Thera Sāriputta (Sariputta). Pada suatu ketika, Buddha menghabiskan masa vassa-Nya di Sāvatthi, dan sesudahnya melakukan pengembaraan. Ketika Beliau kembali, para penduduk berkeinginan untuk menyambut kepulangan-Nya, dan mereka pun menyiapkan dana mereka […]
Baca selengkapnya...No. 253 MAṆI-KAṆṬHA-JĀTAKA191 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Makanan dan minumanku berlimpah,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Cetiya Aggāḷava dekat Āḷavī, tentang peraturan latihan yang harus diperhatikan dalam membuat kediaman berkamar tunggal (kuti/pondok). Sebagian bhikkhu yang tinggal di Āḷavī dengan cara meminta (bahan) menyuruh membangun pondok untuk diri mereka sendiri. […]
Baca selengkapnya...NO. 252 TILA-MUṬṬHI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sekarang teringat kembali olehku,” dan seterusnya.— Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang pemarah. Dikatakan bahwasanya terdapat seorang bhikkhu yang selalu dipenuhi dengan kemarahan dan gejolak. Tidak peduli betapa kecil (nasihat) yang diberikan kepadanya, dia akan menjadi marah dan berbicara […]
Baca selengkapnya...Festival Qingming Qingming, arti yang jelas dan terang, adalah hari berkabung orang mati. Jatuh pada awal April setiap tahun. Ini sesuai dengan timbulnya cuaca hangat, awal musim semi untuk membajak, dan acara keluarga. Sebelum kita berbicara tentang Qingming, kita harus mengisahkan tentang satu hari lagi yaitu Hanshi, yang selalu datang satu hari sebelum Qingming. Hanshi […]
Baca selengkapnya...No. 251 SAṀKAPPA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [271] “Tidak ada pemanah,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menyesal. Seorang putra dari keluarga terpandang yang tinggal di Sāvatthi (Savatthi) meletakkan keyakinannya kepada ajaran (Buddha) dan kemudian menjalankan kehidupan suci sebagai seorang petapa. Pada suatu hari, ketika […]
Baca selengkapnya...No. 250 KAPI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seorang petapa suci,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu. Para bhikkhu mengetahui tindakannya yang menipu itu. Di dalam balai kebenaran, mereka membicarakannya, “Āvuso, bhikkhu anu, setelah menganut ajaran Buddha yang mengarahkan ke pembebasan, masih melakukan penipuan.” Sang […]
Baca selengkapnya...No. 249 SĀLAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bagaikan anak kandungku sendiri,” dan seterusnya.— Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang mahāthera. Dikatakan bahwasanya thera ini menahbiskan seorang pemuda, yang kemudian diperlakukan olehnya dengan tidak baik. Sāmaṇera (Samanera) tersebut pada akhirnya tidak tahan dengan perlakuannya dan kembali menjalani kehidupan duniawi. […]
Baca selengkapnya...No. 248 KIṀSUKOPAMA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [265] “Semuanya sudah melihat,” dan seterusnya.— Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, dalam hubungannya dengan Sutta tentang pohon kiṁsuka 177 (Kiṁsukopama Sutta). Empat orang bhikkhu datang menjumpai Sang Tathāgata, menanyakan tentang topik-topik meditasi. Beliau menjelaskannya kepada mereka. Setelah Beliau menjelaskannya, mereka masing-masing pergi […]
Baca selengkapnya...