No. 381 MIGĀLOPA-JĀTAKA151 Sumber : Indonesia Tipitaka Center [255] “Jalanmu, Anakku,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini saat berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang sulit dinasihati. Sang Guru bertanya kepada bhikkhu tersebut, “Apakah benar, Bhikkhu, bahwa Anda adalah orang yang sulit dinasihati?” Ia menjawab, “Ya, Bhante.”
Baca selengkapnya...No. 380 ĀSAṄKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Di taman dewa,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya (dalam kehidupan rumah tangga). Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Indriya-Jātaka150. Sang Guru mengetahui bahwa bhikkhu itu menyesal disebabkan oleh mantan istrinya, jadi Beliau berkata, […]
Baca selengkapnya...No. 379 NERU-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Burung dendang dan burung gagak,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu. Ceritanya dimulai ketika ia telah memperoleh objek meditasi berupa perbuatan (kammaṭṭhāna) dari Sang Guru dan kemudian pergi ke sebuah desa perbatasan. Orang-orang di sana, yang merasa […]
Baca selengkapnya...No. 378 DARĪMUKHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Kesenangan-kesenangan indriawi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang pelepasan keduniawian. Cerita pembukannya telah dikemukakan sebelumnya. ____________________ Dahulu kala ketika Raja Magadha berkuasa di Rājagaha, Bodhisatta terlahir sebagai anak dari permaisurinya dan diberi nama Pangeran Brahmadatta. Pada hari kelahirannya, pendeta […]
Baca selengkapnya...No. 377 SETAKETU-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Teman, janganlah marah,” dan seterusnya. Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang curang. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Uddālaka-Jātaka138. ____________________ Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang guru yang terkemuka, yang mengajarkan ajaran-ajaran agama […]
Baca selengkapnya...BUKU VI.—CHANIPĀTA No. 376 AVĀRIYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [228] “Janganlah marah, raja kesatria, dan seterusnya.” Sang Guru menceritakan kisah ini ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang tukang perahu. Dikatakan bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang dungu dan tidak tahu apa-apa. Ia tidak tahu tentang tiga permata dan juga makhluk-makhluk suci lainnya: ia […]
Baca selengkapnya...No. 374 CULLADHANUGGAHA-JĀTAKA132 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Karena Anda telah sampai,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan (nafsu) terhadap seorang bhikkhu oleh mantan istrinya (dalam kehidupan berumah tangga). Ketika bhikkhu itu mengakui bahwa disebabkan oleh mantan istrinya, ia menjadi menyesal, Beliau berkata, “Bukan hanya kali […]
Baca selengkapnya...No. 373 MŪSIKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Orang-orang berkata, ‘Ke mana ia pergi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veluvana, tentang Ajātasattu (Ajatasattu). Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Thusa-Jātaka130. Di sini juga Sang Guru memerhatikan pada saat bersamaan raja bermain dengan putranya dan mendengarkan khotbah Dhamma.
Baca selengkapnya...No. 372 MIGAPOTAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bersedih untuk yang sudah meninggal,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu tua. Dikatakan bahwasanya ia menahbiskan seorang pemuda menjadi samanera, dan kemudian samanera itu jatuh sakit dan meninggal setelah merawatnya sekian lama dengan tekun sekali. Bhikkhu tua tersebut […]
Baca selengkapnya...No. 371. DĪGHITIKOSALA-JĀTAKA127. Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Anda sekarang berada dalam kekuasaanku,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang beberapa bhikkhu dari Kosambī yang suka bertengkar. Ketika mereka datang ke Jetavana, Sang Guru menyapa mereka di saat mereka sedang akur, dan berkata, “Para Bhikkhu, kalian adalah anak-anakku dalam […]
Baca selengkapnya...