Category Archives for Tipitaka

Siri Kalakanni Jataka

No. 192 SIRI-KĀḶAKAṆṆI-JĀTAKA94 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sekalipun wanita dapat bersikap adil,” dan seterusnya. Kisah ini akan dikemukakan di Mahā-ummagga-Jātaka95. ____________________ Catatan kaki : 94 Bandingkan Tibetan Tales, XXI. pp. 291-5, “How a Woman Requites Love.” 95 No. 538 di Westergaard.

Baca selengkapnya...

Ruhaka Jataka

No. 191 RUHAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bahkan tali busur yang putus,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, mengenai godaan yang timbul dari mantan istri. Cerita pembuka ini akan dijelaskan di dalam Buku VIII, pada Indriya-Jātaka91. Kemudian Sang Guru mengatakan kepada bhikkhu ini, “Itu adalah wanita yang mencelakakanmu. Pada […]

Baca selengkapnya...

Silanisamsa Jataka

No. 190 SĪLĀNISAṀSA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [111] “Melihat buah perbuatan dari keyakinan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang upasaka yang berkeyakinan. Dia adalah seorang siswa mulia yang berkeyakinan dan bajik. Suatu petang, dalam perjalanannya ke Jetavana, dia sampai ke tepi Sungai Aciravatī setelah para tukang […]

Baca selengkapnya...

Sihacamma Jataka

No. 189 SĪHACAMMA-JĀTAKA88 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Bukan singa, bukan harimau yang kulihat,” dan seterusnya. Kisah ini seperti yang di atas, tentang Kokālika (Kokalika), yang diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana. Kali ini dia ingin bersuara. Sang Guru, setelah mendengar ini, menceritakan kisah berikut.

Baca selengkapnya...

Sihakotthuka Jataka

No. 188 SĪHAKOṬṬHUKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Cakar singa dan tapak singa”, dan seterusnya. Kisah ini ceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Kokālika (Kokalika). Dikatakan bahwasanya suatu hari Kokalika mendengar sejumlah bhikkhu yang bijak memberikan khotbah Dhamma, dan kemudian merasa ingin untuk memberikan khotbah sendiri; selanjutnya sama seperti cerita pembuka yang […]

Baca selengkapnya...

Catumatta Jataka

No. 187 CATUMAṬṬA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Duduk dan bernyanyi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu tua. Dikatakan bahwasanya pada suatu ketika, kedua siswa utama sedang duduk bersama, saling bertanya dan menjawab; ketika datang seorang bhikkhu tua dan menjadi orang ketiga. [107] Setelah mengambil tempat […]

Baca selengkapnya...

Dadhi Vahana Jataka

No. 186 DADHI-VĀHANA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Manis tadinya rasa mangga,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang persahabatan seorang bhikkhu dengan yang tidak baik. Cerita pembukanya sama seperti kisah sebelumnya di atas. Kembali Sang Guru berkata: “Para Bhikkhu, sahabat yang tidak baik adalah buruk dan membahayakan; Bukan […]

Baca selengkapnya...

Giridanta Jataka

No. 184 GIRIDANTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [98] “Berkat penjaga kuda,“ dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana, tentang persahabatan (seorang bhikkhu) dengan yang tidak baik. Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Mahilāmukha-Jātaka80. Sekali lagi, seperti sebelumnya, kata Sang Guru: “Di masa lampau, bhikkhu ini bersahabat dengan yang tidak […]

Baca selengkapnya...

Valodaka Jataka

No. 183 VĀLODAKA-JĀTAKA76 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Minuman sisa yang lemah,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang lima ratus orang yang menyantap sisa-sisa makanan. Dikatakan bahwasanya di Sāvatthi terdapat lima ratus orang yang telah meninggalkan urusan duniawi kepada putra-putri mereka, [96] dan tinggal bersama, di bawah ajaran […]

Baca selengkapnya...

Samgamavacara Jataka

No. 182 SAṀGĀMĀVACARA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Oh Gajah, kamu seorang pahlawan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Thera Nanda. Sang Guru pada kepulangan-Nya yang pertama ke kota Kapila, menerima Pangeran Nanda, adik-Nya, ke dalam kelompok bhikkhu Saṅgha (Sangha), dan setelah pulang ke Sāvatthi, Beliau tinggal di sana. […]

Baca selengkapnya...
1 39 40 41 42 43 127