Kisah Kelompok Enam Bhikkhu Ketika berdiam di Vihara Javana, Sang Buddha membabarkan syair keseratus dua puluh sembilan dari Dhammapada ini, yang merujuk kepada sebuah kelompok yang terdiri dari enam bhikkhu (chabbaggi) yang bertengkar dengan kelompok lainnya yang terdiri dari tujuh belas bhikkhu. Suatu ketika terdapat tujuh belas bhikkhu sedang membersihkan sebuah bangunan komplek Vihara Jetavana […]
Baca selengkapnya...KULĀVAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Biarkan semua anak burung di hutan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu yang minum tanpa menyaring airnya terlebih dahulu66. Menurut kisah yang diceritakan secara turun temurun, dua orang bhikkhu muda yang saling bersahabat meninggalkan Sawatthi menuju sebuah desa, di sana […]
Baca selengkapnya...MUṆIKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Maka jangan iri pada Muṇika yang malang,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai godaan dari seorang wanita muda yang kasar. Kisah ini berhubungan dengan Buku Ketiga Belas, dalam Culla-Nārada-Kassapa-Jātaka65. Sang Guru bertanya kepada bhikkhu itu dengan berkata, “Benarkah, Bhikkhu, seperti yang mereka […]
Baca selengkapnya...KAṆHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Dengan muatan yang berat,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai keajaiban ganda, bersamaan dengan turunnya makhluk dewata dari surga, yang berhubungan dengan Buku Ketiga Belas, dalam Sarabhamiga-Jātaka63. Setelah menunjukkan keajaiban ganda, dan telah menetap di surga, Buddha Yang Maha Tahu turun ke […]
Baca selengkapnya...NANDIVISĀLA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Hanya mengucapkan kata-kata yang baik,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai kata-kata tidak enak (kasar) yang diucapkan oleh keenam bhikkhu62. Saat berselisih dengan para bhikkhu yang terhormat, keenam bhikkhu ini selalu mencela, memaki dan mencemooh dengan sepuluh jenis kata-kata kasar. Hal ini […]
Baca selengkapnya...ABHIṆHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tidak ada butiran yang dapat ditelannya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang umat awam dan seorang thera yang telah berumur [189]. Menurut kisah yang disampaikan secara turun temurun, di Sawatthi terdapat dua orang sahabat, yang satu merupakan seorang bhikkhu; setiap hari […]
Baca selengkapnya...MAHILAMUKHA-JATAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Awalnya, dengan mendengar,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Bhagawan ketika berada di Weluwana, mengenai Devadatta, yang mendapatkan kesetiaan Pangeran Ajātasattu, ia memperoleh keuntungan serta kehormatan darinya. Pangeran Ajātasattu membangun sebuah wihara untuk Devadatta di Gayāsīsa, dan setiap hari mempersembahkan [186] lima ratus mangkuk nasi wangi yang berusia […]
Baca selengkapnya...ĀJAÑÑA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Tidak masalah kapan maupun dimana,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang bhikkhu lain yang juga menyerah dalam pelatihan dirinya. Namun dalam kasus ini, Beliau menasihati bhikkhu itu dengan berkata, “Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, ia yang bijaksana dan penuh kebaikan tetap […]
Baca selengkapnya...BHOJĀJĀNĪYA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Meskipun dalam keadaan lemah,”dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana mengenai seorang bhikkhu yang menyerah dalam pelatihan dirinya. Saat menegur bhikkhu itu, Sang Guru berkata, “Bhikkhu, di kehidupan yang lampau, Ia yang bijaksana dan tekun dalam melakukan kebajikan, meskipun berada di tengah kepungan musuh […]
Baca selengkapnya...KUKKURA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [175] “Anjing-anjing yang dipelihara dalam istana raja,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai tindakan demi kebaikan kerabat, yang berhubungan dengan Buku Kedua Belas, dalam Bhaddasāla-Jātaka 59 . Cerita itu mengantarkan uraian Beliau tentang kisah kelahiran lampau ini. ____________________ Suatu waktu ketika Brahmadatta […]
Baca selengkapnya...