Duta Jataka

No. 260

DŪTA-JĀTAKA220

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

“Wahai Raja, Anda melihat seorang utusan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah.

Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Kāka-Jātaka221, Buku IX.  Dalam kisah ini, Sang Guru berkata kepada bhikkhu tersebut, [319] “Sebelumnya Anda adalah seorang serakah, Bhikkhu, sama seperti keadaanmu sekarang ini; dan di masa lampau itu, dikarenakan keserakahanmu, kepalamu hampir terpotong dengan sebilah pisau.”

Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.
____________________

Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah raja di Benares, Bodhisatta terlahir sebagai putranya. Dia tumbuh dewasa dan menyelesaikan pendidikannya di Takkasilā. Sepeninggal ayahnya, dia pun mewarisi kerajaannya, dan dia adalah seorang yang berpilih-pilih dalam hal makanan; oleh karenanya dia mendapatkan nama Raja Bhojanasuddhika.

Besar sekali biaya yang dihabiskan untuk makanannya, satu porsi makanan menghabiskan uang seratus ribu keping. Di saat makan, dia tidak makan di dalam istana; tetapi, seperti keinginannya untuk menunjukkan kemewahan kepada orang banyak dengan mempertontonkan hiasan makanannya yang mewah, dia memerintahkan pengawalnya untuk membangun sebuah paviliun yang berhiaskan permata di depan istana, dan pada saat makan, dia memerintahkan pengawal untuk menghiasnya, dan di sana dia duduk pada satu dipan mewah yang terbuat dari emas, di bawah naungan payung putih dikelilingi oleh para wanita kerajaan, dan menyantap makanan yang beratus jenis rasanya, yang menghabiskan seratus ribu keping uang.

Kala itu, seorang laki-laki serakah melihat kelakuan raja pada saat makan, dan memiliki keinginan untuk mencicipinya. Karena tidak bisa menguasai keinginannya itu, dia mengikat pinggangnya dengan ketat dan berlari ke arah raja, sambil berteriak dengan keras, “Saya adalah seorang utusan, seorang utusan!” dengan kedua tangannya diangkat ke atas. (Kala itu dan di negeri itu, jika ada seseorang yang meneriakkan ‘Utusan!’ maka tidak akan seorang pun yang menghalangi jalannya; dan demikianlah orang-orang menepi dan memberikannya jalan untuk lewat).

Laki-laki itu berlari dengan cepat, mengambil segenggam nasi dari piring raja dan memasukkannya ke dalam mulut. Pengawal menarik pedangnya, bermaksud untuk memenggal kepala laki-laki tersebut. Tetapi raja menahannya. “Jangan memenggalnya,” kata raja, kemudian berkata kepada laki-laki itu, “Jangan takut, teruslah makan!” Dia mencuci tangannya dan duduk.

[320] Setelah selesai bersantap, raja menyuruhnya pengawal untuk memberikan air minum dan daun pinang sirihnya222 kepada laki-laki itu, kemudian berkata, “Tadi Anda mengatakan bahwa Anda adalah seorang utusan, pesan apa yang hendak Anda sampaikan?” “Oh Paduka, saya adalah seorang utusan dari nafsu dambaan dan utusan dari perut. Nafsu itu menyuruhku untuk datang dan membawaku ke sini sebagai utusannya,” dan setelah mengatakan kata-kata tersebut, dia mengucapkan dua bait berikut:

Wahai Raja, Anda melihat seorang utusan dari perut:
Wahai Kesatria Pemimpin Berkereta, janganlah marah!
Demi sejengkal perut, orang akan pergi ke mana pun,
ke tempat yang jauh,
bahkan meminta bantuan kepada seorang musuhnya.

Wahai Raja, Anda melihat seorang utusan dari perut:
Wahai Kesatria Pemimpin Berkereta, janganlah marah!
Perut ini memegang peran atas kekuasaan yang sangat kuat
bagi semua orang,  baik siang maupun malam.

Ketika mendengar ini, raja berkata, “Itu benar, orang-orang bisa menjadi utusan dari perut; didesak oleh nafsu dambaan, mereka akan pergi ke sana dan ke sini, dan nafsu dambaan itu yang membuat mereka pergi. Betapa indahnya orang ini telah menyampaikannya!” Raja menjadi senang dengannya dan mengucapkan bait ketiga berikut:

Brahmana, seribu ekor sapi betina merah kuberikan kepadamu;
dilengkapi dengan sapi-sapi jantan.
Seorang utusan mungkin menyampaikan sesuatu
kepada orang lain;
karena memang demikianlah
jalan hidup utusan dari perut.

Demikian raja berkata dan kemudian menambahkan, “Telah kudengar sesuatu yang belum pernah kudengar sebelumnya, sesuatu yang tidak pernah kupikirkan, yang dikatakan oleh orang ini.” Begitu senangnya diri raja terhadap laki-laki ini sehingga dia pun menganugerahkan banyak kehormatan kepada dirinya.
____________________

[321] Setelah menyampaikan uraian ini, Sang Guru memaklumkan kebenaran dan mempertautkan kisah kelahiran mereka:—Di akhir kebenaran, bhikkhu yang serakah itu mencapai tingkat kesucian Sakadāgāmi, dan banyak lagi orang lain mencapai tingkat kesucian Sotāpanna dan sebagainya:— “Pada masa itu, orang yang serakah itu adalah orang yang sama dalam dua cerita ini, dan Aku sendiri adalah Raja Bhojanasuddhika.”

____________________

Catatan kaki :

220 Lihat Morris, Folk-lore Journal, IV. 54.

221 Tidak dapat ditemukan kisah Kāka-Jātaka di dalam Buku IX (Kesembilan). Yang ada terdapat di dalam Buku VI (Keenam), Jātaka Vol. III. No. 395, cerita pembukanya tidak diberikan, tetapi dituliskan “sama seperti sebelumnya (di atas)”, yakni Vaṭṭaka-Jātaka, No. 394.

222 tambūla. PED: pohon sirih (betel) atau daun pohon sirih (yang biasanya dikunyah-kunyah setelah selesai menyantap makanan).

Leave a Reply 0 comments