PALASA-JATAKA

No. 370.

PALĀSA-JĀTAKA.

Sumber : Indonesia Tipitaka Center

 

“Angsa berkata kepada pohon plasa,” dan seterusnya.
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang kecaman terhadap nafsu (noda batin).

Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Paññā-Jātaka.
Dalam kisah ini Sang Guru berkata kepada mereka, “Para Bhikkhu, kotoran (batin) haruslah diwaspadai. Walaupun itu sekecil tunas pohon beringin, tetapi akibatnya bisa menjadi sangat berbahaya.
Orang bijak di masa lampau juga mewaspadai apa yang patut diwaspadai.” Dan berikut ini Beliau menghubungkannya dengan sebuah kisah masa lampau.

 

 

Dahulu kala di bawah pemerintahan Brahmadatta, Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor angsa emas. Ketika tumbuh menjadi angsa dewasa, ia tinggal di Gua Emas di Gunung Cittakūṭa di daerah pegunungan Himalaya dan hidup dengan memakan padi-padi yang tumbuh liar di sebuah danau alami. Di tengah perjalanannya menuju dan pulang dari danau itu terdapat sebuah pohon plasa yang besar, setiap kali pergi dan pulang dari tempat itu ia selalu beristirahat di sana, sehingga terjalin persahabatan di antara ia dan dewa pohon yang berdiam di sana. Kemudian ada seekor burung, yang sehabis memakan buah matang dari sebuah pohon beringin, hinggap di pohon plasa itu dan membuang kotorannya di cabang pohon tersebut.

Di percabangan itu tumbuh tunas beringin yang tingginya empat aṅgula dan dihiasi dengan warna merah dan hijau. Melihat ini, angsa emas berbicara kepada dewa pohon plasa, “Teman, setiap pohon yang ditumbuhi oleh pohon beringin akan mengalami kehancuran dikarenakan pertumbuhannya itu. Janganlah biarkan beringin ini tumbuh, kalau tidak, ia akan menghancurkan kediamanmu. Kita harus mewaspadai hal-hal yang patut diwaspadai.” Ia berkata demikian kepada dewa pohon dan kemudian mengucapkan bait pertama berikut:

[209] Angsa berkata kepada pohon plasa, ‘Tunas beringin sedang mengancam dirimu:
Apa yang dilakukannya di dalam dirimu akan menghancurkan bagian-bagian pohonmu.’

Mendengar perkataan ini, dewa pohon tidak mengindahkannya dan mengucapkan bait kedua berikut:

Biarkanlah ia tumbuh, jika saya menjadi tempat bernaung bagi pohon beringin itu,
dan merawatnya dengan kasih sayang orang tua,
ia akan menjadi sebuah berkah bagiku.

Kemudian angsa mengucapkan bait ketiga berikut:

Kutakutkan ia adalah tunas yang berbahaya,
dengan melakukan sesuatu di dalam dirimu.
Saya ucapkan selamat tinggal dan pamit pergi,
saya tidak suka dengan tumbuhnya tunas pohon ini.

Setelah mengucapkan kata-kata ini, angsa emas mengepakkan sayapnya dan langsung terbang menuju ke Gunung Cittakūṭa. Sejak saat itu, ia tidak pernah kembali lagi.
Kemudian tunas beringin itu pun terus tumbuh, pohon beringin itu juga ada dewa pohonnya. Dalam proses pertumbuhannya, ia menghancurkan pohon plasa dan kediaman dewa pohon plasa
itu pun hancur. Pada waktu itu, terpikir akan kata-kata dari raja angsa, dewa pohon plasa berpikir, “Raja angsa itu sebelumnya telah melihat bahaya ini di masa yang akan datang dan memberikan peringatan kepadaku, tetapi saya tidak mendengarkan peringatan itu.” Demikian ia meratap, kemudian ia mengucapkan bait keempat berikut:

Dewa pohon setinggi Gunung Meru telah membuatku melarikan diri;
Tidak mengindahkan kata-kata yang diucapkan oleh teman angsaku,
sekarang diriku didera dengan ketakutan

Demikianlah pohon beringin menghancurkan semua cabang pohon plasa dan membuatnya menjadi tungkul pohon saja, dan kediaman dewa pohon plasa itu pun hilang.

Orang bijak tidak menyukai hal yang merugikan,
yang diyakininya dapat menghambat perkembangannya.
Orang bijak, yang mencurigai adanya bahaya, dari tanaman, akan menghancurkan akarnya sebelum ia tumbuh.

Ini adalah bait kelima, yang diucapkan oleh Ia Yang Sempurna Kebijaksanaan-Nya.

 

 

Di sini Sang Guru mengakhiri uraian-Nya, kemudian memaklumkan kebenarannya dan mempertautkan kisah kelahiran ini:—Di akhir kebenaran, lima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian Arahat:—“Pada masa itu, saya sendiri adalah (raja) angsa emas.”

 

 

 

Leave a Reply 0 comments