Suatu ketika Sangarava si brahmana menghampiri Sang Buddha dan berbicara kepada Beliau demikian: 31
“Kami adalah kaum brahmana, Guru Gotama: kami mempersembahkan kurban dan mengajak yang lain untuk mempersembahkan kurban. Orang yang mempersembahkan kurban sendiri dan orang yang mengajak orang lain untuk melakukannya sama-sama terlibat dalam praktek yang berjasa, yaitu persembahan kurban yang dapat menyebar pada banyak orang. Namun anggota keluarga ini atau itu yang meninggalkan kehidupan berumah tangga, dia menjinakkan dirinya sendiri saja, menenangkan dirinya sendiri saja, mencapai Nibbana bagi dirinya sendiri saja. Jika memang demikian halnya, maka dia melakukan praktek berjasa, yaitu tindakan meninggalkan kehidupan rumah tangga, yang melibatkan hanya satu orang saja.”
“Brahmana, aku akan bertanya kepadamu dan engkau boleh menjawabnya menurut pendapatmu. Brahmana, bagaimana pendapatmu mengenai hal ini: Sang Tathagata muncul di dunia, Sang Arahat, Yang Telah Sepenuhnya Tercerahkan, yang trampil di dalam perilaku dan pengetahuan sejati, yang maha tinggi, pengenal dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru bagi para dewa dan manusia, Yang Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau berkata demikian: ‘Datanglah! Inilah jalannya. Inilah jalan yang telah kutempuh, yang melaluinya aku telah secara langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci yang sekarang ini kunyatakan. Datanglah! engkau juga harus berlatih demikian, sehingga engkau juga, dengan usahamu sendiri, akan langsung mengetahui dan mewujudkan penyempurnaan tertinggi dari kehidupan suci ini dan berdiam di dalam pencapaian itu!’
“Maka guru ini menunjukkan Dhamma, dan yang lain pun berlatih dengan cara itu. Dan dari antara mereka yang melakukannya, ada ratusan, ribuan, ratusan ribu. Bagaimana pendapatmu, brahmana: karena memang demikian halnya, apakah tindakan meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek berjasa yang melibatkan hanya satu orang atau banyak orang?”
“Kalau demikian halnya, Guru Gotama, meninggalkan kehidupan duniawi merupakan suatu praktek yang berjasa yang menyebar pada banyak orang.”
Ketika hal itu telah dikatakan, YM Ananda berbicara kepada brahmana Sangarava demikian:32 “Dari kedua praktek ini, wahai brahmana, bagimu mana yang lebih menarik karena lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan karena memberikan buah yang lebih kaya serta manfaat yang lebih besar?”
Maka brahmana Sangavara berkata kepada YM Ananda: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”
Untuk kedua dan ketiga kalinya, YM Ananda berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, saya tidak bertanya siapa yang engkau hormati dan puji, tetapi bagimu mana dari kedua praktek itu yang tampak lebih sederhana dan lebih tidak merugikan, dan yang memberikan buah yang lebih kaya serta bermanfaat lebih besar?”
Tetapi juga untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya brahmana Sangarava menjawab: “Saya harus menghormati dan memuji mereka yang seperti Guru Gotama dan Guru Ananda.”
Kemudian Sang Buddha berpikir: “Bahkan untuk ketiga kalinya, ketika Ananda memberikan pertanyaan yang sama, brahmana Sangarava ini tetap menghindar dan tidak menjawab. Apakah tidak seharusnya kubebaskan dia dari situasi itu?” Maka Beliau berkata kepada brahmana itu: “Brahmana, apakah yang mungkin menjadi topik pembicaraan di antara anggota istana, seandainya saja mereka duduk bersama hari ini di istana kerajaan?”
“Beginilah topik pembicaraannya, Guru Gotama: ‘Dahulu ada lebih sedikit bhikkhu, tetapi lebih banyak yang mempertunjukkan mukjizat-mukjizat dari kekuatan supranormal yang melebihi manusia. Sebaliknya sekarang ada lebih banyak bhikkhu, tetapi lebih sedikit yang menunjukkan mukjizat kekuatan supranormal yang melebihi manusia itu.’ Itulah yang menjadi topik pembicaraan.”
“Ada tiga macam mukjizat, brahmana. Apakah yang tiga itu? Mukjizat kekuatan supranormal, mukjizat membaca pikiran, dan mukjizat pengajaran.
“Apakah yang merupakan mukjizat kekuatan supranormal? Ada orang yang menikmati berbagai macam kekuatan supranormal: setelah menjadi satu, dia berubah menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, dia berubah menjadi satu; dia muncul dan lenyap; dia pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah-olah melewati ruang; dia menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; dia berjalan di atas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila dia pergi melalui udara bagaikan seekor burung; dengan tangannya dia menyentuh dan membelai matahari dan rembulan, begitu kuat dan berkuasa; dia menggunakan penguasaan atas tubuhnya bahkan sejauh alam-Brahma. Inilah, brahmana, yang disebut mukjizat kekuatan supranormal.
“Apakah yang merupakan mukjizat membaca pikiran? Ada orang yang, dengan sarana tanda,33 menyatakan: ‘Demikianlah pikiranmu, seperti inilah pikiranmu, demikianlah buah-pikirmu.’ Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah.
“Orang lain tidak membuat pernyataannya lewat sarana tanda, melainkan setelah mendengar suara manusia, suara makhluk halus atau dewa… atau dengan mendengarkan suara getaran-buah-pikir seseorang… atau secara mental menembus arah kecenderungan mentalnya ketika dia berada di dalam keadaan meditasi yang bebas dari buah-pikir.34 Dan betapapun banyaknya pernyataan seperti itu yang dibuatnya, semua memang benar demikian dan tidak salah. Inilah yang disebut mukjizat membaca pikiran.
“Dan brahmana, apakah mukjizat pengajaran? Ada orang yang mengajarkan demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan berpikir dengan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ Inilah yang disebut mukjizat pengajaran.35
“Inilah, O brahmana, tiga jenis mukjizat. Dari tiga jenis mukjizat ini, yang manakah yang tampak bagimu sebagai yang paling bagus dan paling tinggi?”
“Mengenai mukjizat kekuatan supranormal dan pembacaan pikiran, Guru Gotama, hanya pelakunya saja yang akan mengalami hasilnya; hasilnya hanya dimiliki oleh orang yang melakukannya. Kedua mukjizat ini, Guru Gotama, bagi saya tampak memiliki sifat tipuan tukang sulap. Tetapi mengenai mukjizat pengajaran – inilah, Guru Gotama, yang bagi saya tampak sebagai yang paling bagus dan paling tinggi di antara ketiganya.
“Betapa luar biasa dan menakjubkannya hal ini telah disampaikan oleh Guru Gotama. Kami akan mengingat Guru Gotama sebagai orang yang memiliki tiga mukjizat ini. Guru Gotama menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal. Beliau secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain. Dan Guru Gotama mengajar orang lain demikian: ‘Engkau seharusnya berpikir dengan cara ini dan bukan cara itu! Engkau seharusnya memperhatikan ini dan bukan itu! Engkau seharusnya meninggalkan ini dan harus berdiam di dalam pencapaian itu!’ ”
“Brahmana, sungguh-sungguh engkau telah menyampaikan kata-kata yang sangat sesuai. Maka juga akan kunyatakan bahwa aku menikmati berbagai jenis kekuatan supranormal… bahwa aku secara mental menembus dan mengetahui pikiran orang lain… dan bahwa aku mengajar orang lain bagaimana caranya mengarahkan pikiran.”
“Tetapi apakah ada bhikkhu lain, selain Guru Gotama, yang memiliki tiga mukjizat ini?”
“Ya, brahmana. Para bhikkhu yang memiliki ketiga mukjizat ini tidak hanya berjumlah seratus, atau dua ratus, tiga ratus, empat ratus, atau lima ratus, tetapi bahkan lebih banyak bhikkhu yang telah memilikinya.”
“Dan di manakah berdiamnya bhikkhu-bhikkhu ini, Guru Gotama?””Di dalam Sangha para bhikkhu ini juga, brahmana.”
“Luar biasa, Guru Gotama! Luar biasa, Guru Gotama! Sama seperti orang menegakkan apa yang terjungkir balik atau menguak apa yang tadinya tersembunyi, atau menunjukkan jalan bagi mereka yang tersesat, atau memegang lampu di dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata bisa melihat bentuk. Demikian pula Dhamma telah dibabarkan dengan berbagai cara oleh Guru Gotama. Saya sekarang pergi untuk berlindung pada Guru Gotama, pada Dhamma, dan pada Sangha para bhikkhu. Biarlah Guru Gotama menerima saya sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak saat ini sampai akhir hayat.”
(III, 60)
35. Tiga Pendapat Sektarian
Para bhikkhu, ada tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa tindakan, sekalipun sudah diterapkan karena tradisi. 36Apakah tiga pendapat ini?
Para bhikkhu, ada beberapa petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang, apakah itu perasaan menyenangkan, menyakitkan atau perasaan netral, semua itu disebabkan oleh tindakan lampau.” Ada lainnya yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan.” Dan masih ada petapa dan brahmana lain yang mengajar dan memegang pandangan ini: “Apapun yang dialami seseorang… tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan.”37
(1) Para bhikkhu, aku telah menemui para petapa dan brahmana ini (yang memegang pandangan pertama) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh tindakan lampau?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, aku katakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tindakan masa lampau (yang dilakukan dalam suatu kehidupan lampau) itulah yang menyebabkan orang membunuh, mencuri, terlibat dalam perilaku seksual yang salah; yang membuat mereka berbohong, mengucapkan kata-kata yang jahat, berbicara kasar dan suka berbicara yang tak ada gunanya; yang menyebabkan mereka menginginkan milik orang lain, dengki, dan jahat serta memiliki pandangan salah.38 Maka mereka yang menganggap tindakan lampau sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”
Para bhikkhu, inilah teguran pertamaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajarkan dan memegang pandangan seperti itu.
(2) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan kedua) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajar dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu disebabkan oleh ciptaan Tuhan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan kepada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka ciptaan Tuhan itulah yang membuat orang-orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap ciptaan Tuhan sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”
Para bhikkhu, inilah teguran keduaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.
(3) Sekali lagi, para bhikkhu, aku menemui para petapa dan brahmana (yang memegang pandangan ketiga) dan berkata kepada mereka: “Apakah benar, seperti kata orang, bahwa yang mulia mengajarkan dan memegang pandangan bahwa apapun yang dialami seseorang… semua itu tidak ada sebabnya dan tidak dikondisikan?” Ketika mereka mengatakan “Ya”, kukatakan pada mereka: “Jika demikian halnya, yang mulia, maka tidak ada sebab dan kondisi yang membuat orang membunuh… dan memiliki pandangan salah. Maka mereka yang menganggap bahwa (urutan peristiwa) yang tanpa sebab dan kondisi sebagai faktor penentu tidak akan memiliki semangat dan usaha untuk melakukan ini atau tidak melakukan itu. Karena mereka tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa ini atau itu harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan, istilah ‘petapa’ tidak sesuai untuk mereka, karena mereka hidup tanpa kewaspadaan dan pengendalian diri.”
Para bhikkhu, inilah teguran ketigaku – yang diakui kebenarannya – kepada para petapa dan brahmana yang mengajar dan memegang pandangan seperti itu.
Demikianlah, para bhikkhu, tiga pendapat sektarian yang, jika sepenuhnya diperiksa, diteliti dan dibahas, akan berakhir pada suatu doktrin tanpa-tindakan, sekalipun jika dipakai karena tradisi.
Para bhikkhu, Dhamma yang diajarkan olehku tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.39 Dan apakah Dhamma itu?
“Inilah enam elemen” – itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, yang… oleh petapa dan brahmana yang pandai.
“Inilah enam landasan kontak”… “Inilah delapan belas pemeriksaan mental”… “Inilah Empat Kebenaran Mulia” – itulah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.Nah, karena apakah dikatakan bahwa enam elemen merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam elemen itu: elemen tanah, air, panas, udara, ruang dan kesadaran.40
Karena apakah dikatakan bahwa enam landasan kontak merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Inilah enam landasan kontak itu: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran sebagai landasan kontak.
Karena apakah dikatakan bahwa delapan belas pemeriksaan mental merupakan Dhamma yang diajarkan olehku?41 Inilah delapan belas pemeriksaan mental itu: Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, orang memeriksa suatu bentuk yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Ketika mendengarkan suatu suara dengan telinga… Ketika mencium suatu bau dengan hidung… Ketika mecicipi suatu citarasa dengan lidah… Ketika merasakan suatu objek dengan sentuhan pada tubuh… Ketika memahami suatu objek mental dengan pikiran, orang memeriksa suatu objek yang mungkin menimbulkan sukacita, kesedihan atau ketidakpedulian. Inilah delapan belas pemeriksaan mental.
Karena apakah dikatakan bahwa Empat Kebenaran Mulia itu merupakan Dhamma yang diajarkan olehku? Berdasarkan pada enam elemen ada yang turun ke dalam kandungan.42 Ketika hal itu terjadi, ada materi dan batin (nama-dan-rupa).43 Dengan materi dan batin sebagai kondisi, ada enam landasan indera; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, ada kontak; dengan kontak sebagai kondisi, ada perasaan. Kepada orang yang merasakan inilah kuperkenalkan, “Inilah penderitaan”, “Inilah asal mula penderitaan”, “Inilah berhentinya penderitaan”, “Inilah jalan menuju berhentinya penderitaan”.44
Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan; menjadi tua adalah penderitaan; penyakit adalah penderitaan; kematian adalah penderitaan; kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan adalah penderitaan; berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan; berpisah dengan yang dicintai adalah penderitaan; tidak memperoleh apa yang diinginkan adalah penderitaan; singkatnya, lima kelompok khanda yang terkena kemelekatan adalah penderitaan.45
Para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan? Dengan kebodohan sebagai kondisi, muncullah bentukan-bentukan yang diniati.46 Dengan bentukan-bentukan yang diniati sebagai kondisi, kesadaran terjadi; dengan kesadaran sebagai kondisi, materi dan batin terjadi; dengan materi dan batin sebagai kondisi, enam landasan indera terjadi; dengan enam landasan indera sebagai kondisi, kontak terjadi; dengan kontak sebagai kondisi, perasaan terjadi; dengan perasaan sebagai kondisi, nafsu keinginan terjadi; dengan nafsu keinginan sebagai kondisi, kemelekatan terjadi; dengan kemelekatan sebagai kondisi, proses dumadi terjadi; dengan proses dumadi sebagai kondisi, kelahiran terjadi; dengan kelahiran sebagai kondisi, menjadi tua, kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan terjadi. Demikianlah asal mula seluruh massa penderitaan hidup ini. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan.
Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan? Dengan pudar dan berhentinya kebodohan ini secara total, bentukan-bentukan yang diniati berhenti. Dengan berhentinya bentukan-bentukan yang diniati; kesadaran berhenti. Dengan berhentinya kesadaran, materi dan batin berhenti. Dengan berhentinya materi dan batin, enam landasan indera berhenti. Dengan berhentinya enam landasan indera, kontak berhenti. Dengan berhentinya kontak, perasaan berhenti. Dengan berhentinya perasaan, nafsu keinginan berhenti. Dengan berhentinya nafsu keinginan, kemelekatan berhenti. Dengan berhentinya kemelekatan, proses dumadi berhenti. Dengan berhentinya proses dumadi, kelahiran berhenti. Dengan berhentinya kelahiran, menjadi tua dan kematian, kesedihan, ratap tangis, rasa sakit, kepedihan dan keputusasaan berhenti. Demikianlah berhentinya seluruh massa penderitaan. Para bhikkhu, inilah yang disebut kebenaran mulia tentang berhentinya penderitaan.
Dan para bhikkhu, apakah kebenaran mulia tentang jalan menuju berhentinya penderitaan? Inilah Jalan Mulia Berunsur Delapan, yaitu: pandangan benar, niat benar, ucapan benar, tindakan benar, cara hidup benar, usaha benar, kewaspadaan benar dan konsentrasi benar. Para bhikkhu, inilah yang disebut Kebenaran Mulia tentang jalan yang menuju berhentinya penderitaan.
Empat Kebenaran Mulia inilah Dhamma yang diajarkan olehku, yang tidak dapat disangkal, tidak ternoda, tidak tercela, dan tidak dapat dikecam oleh petapa dan brahmana yang pandai.
(III, 61)
36. Kepada Suku Kalama
Demikian yang telah saya dengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berkelana dengan diiringi Sangha para bhikkhu yang besar jumlahnya, ketika Beliau tiba di kota suku Kalama yang bernama Kesaputta.47 Suku Kalama dari Kesaputta mendengar: “Dikabarkan bahwa petapa Gotama, putra Sakya yang meninggalkan keluarga Sakya, telah tiba di Kota Kesaputta. Ada laporan yang baik tentang Guru Gotama yang beredar demikian: ‘Yang Terberkati itu adalah Sang Arahat, yang telah sepenuhnya tercerahkan, yang terampil dalam pengetahuan benar dan perilaku benar, yang maha tinggi, yang tahu tentang dunia, pemimpin yang tak ada bandingnya bagi para manusia yang harus dijinakkan, guru para dewa dan manusia, Yang Telah Tercerahkan, Yang Terberkati. Beliau memperkenalkan pada dunia dengan para dewanya, dengan Mara, dengan Brahma, pada generasi ini dengan para petapa dan brahmananya, dengan para dewa dan manusianya, setelah merealisasikan dengan pengetahuan langsungNya. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di tengah, dan indah di akhir, dengan arti yang benar dan ungkapan yang benar; Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni.’ Adalah baik bila kita menemui arahat seperti itu.”
Kemudian suku Kalama dari Kesaputta menemui Sang Buddha. Beberapa memberi hormat pada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa bertukar salam dengan Beliau dan setelah bertegur sapa, duduk di satu sisi; beberapa memberikan penghormatan yang tinggi kepada Beliau dan duduk di satu sisi; beberapa tetap diam dan duduk di satu sisi. Kemudian suku Kalama itu berkata kepada Sang Buddha:
“Tuan, ada beberapa petapa dan brahmana yang datang ke Kesaputta. Mereka menjelaskan dan menguraikan doktrin-doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain. Kemudian beberapa petapa dan brahmana lain datang ke Kesaputta, dan mereka juga menjelaskan dan menguraikan doktrin mereka sendiri, dan menjelekkan, merendahkan, mencaci, serta mencemarkan doktrin yang lain. Kami, Tuan, merasa bingung dan ragu. Dari antara petapa-petapa yang baik ini, yang manakah yang berbicara benar dan yang manakah yang berbicara salah?”
“Memang pantas bagi kalian untuk bingung, O suku Kalama, memang pantas bagi kalian untuk ragu. Keraguan telah muncul di dalam diri kalian tentang masalah yang membingungkan. Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ 48 Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah tidak bermanfaat, hal-hal ini dapat dicela; hal-hal ini dihindari oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kerugian dan penderitaan’, maka kalian harus meninggalkannya.
“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Bila keserakahan, bencian dan kebodohan batin muncul di dalam diri seseorang, apakah hal itu menyebabkan kesejahteraannya atau kerugiannya?”49 – “Kerugiannya, Tuan.” – “Suku Kalama, orang yang serakah, membenci dan bodoh batinnya, yang dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya dikendalikan oleh hal-hal itu, akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu akan menyebabkan kerugian dan penderitaannya untuk masa yang lama?” – “Ya, Tuan.”
:”Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Tidak bermanfaat, Tuan” – “Tercela atau tidak tercela?” – “Tercela, Tuan.” – “Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dikecam, Tuan.” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menyebabkan kerugian dan penderitaan atau tidak, atau bagaimana?” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju ke kerugian dan penderitaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami.”
“Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Janganlah begitu saja mengikuti tradisi lisan… ”
“Wahai, suku Kalama. Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan, ajaran turun-temurun, kata orang, koleksi kitab suci, penalaran logis, penalaran lewat kesimpulan, perenungan tentang alasan, penerimaan pandangan setelah mempertimbangkannya, pembicara yang kelihatannya meyakinkan, atau karena kalian berpikir, ‘Petapa itu adalah guru kami.’ Tetapi setelah kalian mengetahui sendiri, ‘Hal-hal ini adalah bermanfaat, hal-hal ini tidak tercela; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; hal-hal ini, jika dilaksanakan dan dipraktekkan, menuju kesejahteraan dan kebahagiaan’, maka kalian harus menjalankannya.
“Bagaimana pendapatmu, suku Kalama? Jika tanpa-keserakahan, tanpa-kebencian dan tanpa-kebodohan-batin muncul di dalam diri seseorang, apakah itu membawa kesejahteraan atau kerugiannya?” – “Kesejahteraannya, Tuan.” – “Suku Kalama, orang yang tanpa keserakahan, tanpa kebencian, tanpa kebodohan batin, yang tidak dikuasai oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, yang buah-pikirnya tidak dikendalikan oleh semua itu, dia tidak akan menghancurkan kehidupan, mengambil apa yang tidak diberikan, melakukan perilaku seksual yang salah dan pembicaraan yang salah; dia juga akan mendorong orang lain untuk melakukan demikian pula. Apakah hal itu menopang kesejahteraan dan kebahagiaannya untuk masa yang lama?” – “Ya, Tuan.”
“Bagaimana pendapatmu, Kalama? Apakah hal-hal itu bermanfaat atau tidak bermanfaat?” – “Bermanfaat, Tuan.” – “Tercela atau tidak tercela?” – “Tidak tercela, Tuan.” – “Dikecam atau dipuji oleh para bijaksana?” – “Dipuji, Tuan.” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, apakah hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan atau tidak, atau bagaimana?” – “Jika dilaksanakan dan dipraktekkan, hal-hal ini menuju kesejahteraan dan kebahagiaan. Demikian tampaknya hal ini bagi kami.”
“Untuk alasan inilah, suku Kalama, maka kami mengatakan: Jangan begitu saja mengikuti tradisi lisan…
“Maka, suku Kalama, siswa agung itu yang tidak memiliki keserakahan, tidak memiliki niat jahat, tidak bingung, memahami dengan jernih, selalu waspada berdiam dengan menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, demikian pula ke arah kedua, ketiga dan keempat.50 Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan dan tanpa niat jahat.”
“Dia berdiam menyelimuti satu arah dengan pikiran yang dipenuhi kasih sayang… dipenuhi sukacita yang tidak mengutamakan diri sendiri… dipenuhi ketenang-seimbangan, demikian pula ke arah kedua, ketiga dan keempat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke seberang, dan ke manapun, dan ke segala sesuatu seperti ke dirinya sendiri, dia berdiam menyelimuti seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi ketenang-seimbangan, luas, tinggi, tanpa batas, tanpa rasa permusuhan dan tanpa niat jahat.
“Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari rasa permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan dalam kehidupan ini juga.
“Inilah jaminan pertama yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya ada alam lain, dan seandainya perilaku yang baik dan buruk memang memberikan buah dan menghasilkan akibat, maka ada kemungkinan ketika tubuh hancur, setelah kematian, aku akan muncul di tempat yang baik, di suatu alam surgawi.’
“Inilah jaminan kedua yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya tidak ada alam lain, dan seandainya tindakan baik dan buruk memang tidak memberikan buah dan menghasilkan akibat, tetap saja di sini, di dalam kehidupan ini juga, aku hidup dengan bahagia, bebas dari rasa permusuhan dan niat jahat.’
“Inilah jaminan ketiga yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya kejahatan menimpa si pelaku kejahatan, maka karena aku tidak berniat jahat kepada siapapun, bagaimana mungkin penderitaan menyerangku, orang yang tidak melakukan kejahatan?’
“Inilah jaminan keempat yang telah dimenangkannya: ‘Seandainya kejahatan tidak menimpa pelaku kejahatan, maka di sini juga aku melihat diriku sendiri termurnikan di dalam dua hal.’ 51
“Suku Kalama, bila siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, maka dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga.”
“Benar demikian, Yang Terberkati! Benar demikian, Yang Agung! Jika siswa agung ini telah membuat pikirannya bebas dari permusuhan, bebas dari niat jahat, murni dan tidak kotor, dia telah memenangkan empat jaminan ini di dalam kehidupan ini juga.
“Luar biasa, Tuan! … (seperti di Teks 34) … Biarlah Yang Terberkati menerima kami sebagai pengikut awam yang telah pergi untuk berlindung sejak hari ini sampai akhir hayat.”
(III, 65)
37. Nafsu, Kebencian dan Kebodohan Batin
“Para bhikkhu, petapa kelana dari kelompok lain mungkin bertanya kepada kalian demikian: ‘Sahabat, ada tiga sifat ini: nafsu,52 kebencian dan kebodohan batin. Sahabat, apakah perbedaan di antara tiga sifat ini, apakah ketidaksamaan dan kelainannya?’ Jika ditanya demikian, para bhikkhu, bagaimanakah kalian akan menjawab petapa-petapa kelana dari sekte lain itu?”
“Bagi kami, Bhante, akar ajaran ada pada Yang Terberkati, dan Bhantelah pembimbing serta sumbernya. Adalah baik jika Bhante sendiri mau menjelaskan arti dari pernyataan ini. Setelah mendengarkan Bhante, para bhikkhu akan menyimpannya di pikiran.”
“Kalau demikian, para bhikkhu, dengarkanlah dengan seksama. Aku akan berbicara.”
“Baik, Bhante,” jawab para bhikkhu. Sang Buddha mengatakan demikian:
“Jika para petapa kelana dari sekte lain menanyakan tentang perbedaan, ketidaksamaan, dan kelainan di antara tiga sifat ini, demikian ini kalian harus menjawab: ‘Nafsu tidak amat tercela tetapi sulit dihilangkan. Kebencian lebih tercela tetapi lebih mudah dihilangkan. Kebodohan batin sangat tercela dan sulit dihilangkan.’53
“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya nafsu yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya nafsu yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang indah: bagi orang yang memperhatikan objek yang indah secara tidak benar, maka nafsu yang tadinya belum muncul akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’54
“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebencian yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebencian yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang menjijikkan: bagi orang yang memperhatikan objek yang menjijikkan secara tidak benar, maka kebencian yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’
“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi munculnya kebodohan batin yang tadinya belum muncul, dan bagi meningkat serta menguatnya kebodohan batin yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Perhatian yang tidak benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara tidak benar, maka kebodohan batin yang tadinya belum muncul akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan meningkat dan menjadi kuat.’
“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya nafsu yang belum muncul, dan bagi lenyapnya nafsu yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Objek yang menjijikkan: bagi orang yang memperhatikan objek yang menjijikkan secara benar, maka nafsu yang belum muncul tidak akan muncul dan nafsu yang telah muncul akan ditinggalkan.’
“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebencian yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebencian yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Pembebasan pikiran oleh cinta kasih: bagi orang yang memperhatikan secara benar kebebasan pikiran oleh cinta kasih, maka kebencian yang belum muncul tidak akan muncul dan kebencian yang telah muncul akan ditinggalkan.’
“Jika mereka bertanya: ‘Sahabat, apakah penyebab dan alasan bagi tidak munculnya kebodohan batin yang belum muncul, dan bagi lenyapnya kebodohan batin yang telah muncul?’ Kalian harus menjawab: ‘Perhatian yang benar: bagi orang yang memperhatikan hal-hal secara benar, maka kebodohan batin yang belum muncul tidak akan muncul dan kebodohan batin yang telah muncul akan lenyap.”‘
(III, 68)
38. Dumadi (Menjadi)
Suatu ketika YM Ananda datang menemui Sang Buddha dan berkata kepada Beliau demikian: “Bhante, orang berbicara tentang ‘dumadi, dumadi.’ Bagaimanakah dumadi ini terjadi?”55
“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam lingkup-indera, apakah akan muncul dumadi apapun di dalam lingkup-indera?”56
“Tentu saja tidak, Bhante.”
“Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Akibatnya, mereka menjadi terbentuk di alam yang rendah. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.57
“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam bentuk, apakah akan muncul dumadi apapun di dalam alam bentuk?” 58
“Tentu saja tidak, Bhante.”
“Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh kebodohan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan. Akibatnya, mereka menjadi terbentuk di alam menengah. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.
“Seandainya saja, Ananda, tidak ada kamma yang masak di dalam alam tanpa bentuk, apakah akan muncul dumadi apapun di alam tanpa-bentuk?”59
“Tentu saja tidak, Bhante.””Karena itu, Ananda, kamma adalah ladangnya, kesadaran adalah benihnya dan nafsu keinginan adalah kelembaban bagi kesadaran para makhluk yang terhalangi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu oleh nafsu keinginan sehingga mereka menjadi terbentuk di alam yang tinggi. Maka ada dumadi-ulang di masa depan.
“Demikianlah, Ananda, cara dumadi terjadi.”
(III, 76)
39. Latihan Berunsur Tiga
Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam di Vesali di Hutan Besar di Balai dengan Atap Meruncing. Saat itu seorang bhikkhu dari suku Vajjian menghampiri Beliau… dan berkata kepada Beliau demikian:
“Bhante, saya tidak dapat menghafal lebih dari seratus lima puluh peraturan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu.”60
“Kalau demikian, bhikkhu, ada tiga jenis latihan ini: latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi.61
“Dan apakah latihan dalam moralitas yang lebih tinggi itu? Di sini, seorang bhikkhu memiliki keluhuran, terkendali oleh pengendalian Patimokkha, sempurna di dalam perilaku dan usaha, melihat bahaya di dalam kesalahan yang terkecil sekalipun. Setelah menjalankan peraturan-peraturan latihan, dia berlatih di dalamnya. Inilah yang disebut latihan dalam moralitas yang lebih tinggi.
“Dan apakah latihan dalam pikiran yang lebih tinggi itu? Di sini, terpisah dari kesenangan-kesenangan indera, terpisah dari keadaan-keadaan yang tidak bermanfaat, seorang bhikkhu masuk dan berdiam di jhana pertama, yang dibarengi oleh buah-pikir dan pemeriksaan. Dia memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang terlahir dari kesendirian. Dengan meredanya buah-pikir dan pemeriksaan, dia masuk dan berdiam di jhana kedua, yang memiliki keyakinan internal dan kemanunggalan pikiran, tanpa buah-pikir dan pemeriksaan. Dia memiliki kegembiraan dan kebahagiaan yang terlahir dari konsentrasi. Dengan memudarnya kegembiraan, dia berdiam dengan tenang-seimbang. Dengan kewaspadaan dan pemahaman yang jernih, dia mengalami kebahagiaan dengan tubuh. Dia berdiam di jhana ketiga, yang dinyatakan demikian oleh mereka yang agung: ‘Dia tenang seimbang, waspada, orang yang berdiam dengan bahagia.’ Dengan lenyapnya rasa senang dan rasa sakit, dan dengan lenyapnya suka cita dan kesedihan sebelumnya, dia masuk dan berdiam di jhana keempat, yang tidak menyakitkan namun juga tidak menyenangkan, dan mencakup kemurnian kewaspadaan lewat ketenang-seimbangan. Inilah latihan dalam pikiran yang lebih tinggi itu.
“Dan apakah latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi itu? Di sini, seorang bhikkhu memahami segala sesuatu sebagaimana adanya: Ini adalah penderitaan. Ini adalah asal mula penderitaan. Ini adalah berhentinya penderitaan. Ini adalah jalan menuju berhentinya penderitaan.’ Inilah kebijaksanaan yang lebih tinggi itu.62“Bhikkhu, apakah engkau mampu berlatih dalam tiga latihan ini?”
“Ya, Bhante.”
“Kalau demikian, bhikkhu, berlatihlah dalam tiga latihan ini: moralitas yang lebih tinggi, pikiran yang lebih tinggi, dan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Jika engkau berlatih demikian, engkau akan meninggalkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin. Dengan lenyapnya hal-hal itu, engkau tidak akan melakukan apapun yang tidak bermanfaat atau menjadi sumber kejahatan apapun.”
Sesudah itu bhikkhu tersebut mempraktekkan latihan dalam moralitas yang tebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Karena dia berlatih demikian, dia pun meninggalkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin. Dengan lenyapnya hal-hal itu, dia tidak lagi melakukan apapun yang tidak bermanfaat atau menjadi sumber kejahatan apapun.
(III, 83 dan 88; digabungkan)
40. Tiga Latihan dan Empat Tahap
Para bhikkhu, lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan yang harus diucapkan ulang setiap dua minggu, yang dilatih oleh para pria muda yang menginginkan tujuan. Semua peraturan itu tercakup di dalam tiga latihan ini. Apakah yang tiga itu? Latihan dalam moralitas yang lebih tinggi, latihan dalam pikiran yang lebih tinggi, dan latihan dalam kebijaksanaan yang lebih tinggi. Inilah tiga latihan yang merangkum lebih dari seratus lima puluh peraturan latihan itu.
Di sini, O para bhikkhu, seorang bhikkhu adalah orang yang sepenuhnya terampil di dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil di dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang tidak begitu penting, dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa begitu? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya.63 Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah dia ambil.64 Dengan hancur leburnya tiga belenggu itu seluruhnya, dia menjadi Pemasuk-Arus, orang yang tidak lagi terkena kelahiran kembali di alam yang rendah, yang mantap keberuntungannya, dengan pencerahan sebagai tujuannya.65
Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas, tetapi hanya agak terampil dalam konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang kurang penting dan kemudian memperbaiki diri… dengan hancur leburnya tiga belenggu ini seluruhnya dan dengan melemahnya keserakahan, kebencian dan kebodohan batin, dia menjadi Yang-Kembali-Sekali-Lagi, yang kembali ke dunia ini hanya satu kali lagi dan kemudian mengakhiri penderitaan.
Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas dan konsentrasi, tetapi hanya agak terampil dalam kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan latihan minor yang tidak begitu penting dan kemudian memperbaiki diri… Dengan hancur leburnya lima belenggu yang lebih rendah, dia menjadi orang yang akan terlahir lagi secara spontan (di alam surgawi) dan di sana mencapai Nibbana akhir, tanpa pernah kembali dari alam itu.66
Kemudian, para bhikkhu seorang bhikkhu di sini adalah orang yang sepenuhnya terampil dalam moralitas, konsentrasi dan kebijaksanaan. Dia melanggar beberapa peraturan pelatihan minor yang tidak begitu penting dan kemudian memperbaiki diri. Mengapa demikian? Karena, para bhikkhu, memang tidak dikatakan bahwa hal itu tidak mungkin baginya. Tetapi mengenai peraturan-peraturan latihan yang amat mendasar untuk kehidupan suci, yang sesuai dengan kehidupan suci, di situ moralitasnya stabil dan mantap, dan dia melatih diri dalam peraturan-peraturan latihan yang telah diambilnya. Dengan hancur leburnya noda-noda, di dalam kehidupan ini juga dia masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tak ternoda, pembebasan lewat kebijaksanaan, karena telah mewujudkannya untuk dirinya sendiri lewat pengetahuan langsung.67
Kemudian, O para bhikkhu, orang yang terampil sebagian mencapai sukses sebagian, orang yang terampil sepenuhnya rnencapai sukses sepenuhnya. Tetapi kunyatakan, peraturan-peraturan latihan ini tidaklah tanpa buah.
(III, 85)
41. Pemurnian Pikiran – I
Para bhikkhu, ada kotoran kasar di dalam emas, seperti misalnya tanah, pasir dan kerikil. Si pandai emas atau pembantunya pertama-tama akan menuangkan emas itu ke dalam palung dan mencuci, membilas dan membersihkannya dengan seksama. Setelah itu, masih tersisa sejumlah kotoran di dalam emas itu, seperti misalnya kerikil halus dan pasir kasar. Kemudian si pandai emas atau pembantunya mencuci, membilas dan membersihkannya lagi. Setelah ini, masih ada kotoran halus di dalam emas itu, seperti misalnya pasir halus dan debu hitam. Kemudian si pandai emas atau pembantunya mengulang pencucian, dan setelah itu barulah hanya debu emas yang tertinggal.
Sekarang dia menuangkan emas itu ke dalam panci untuk melelehkan dan memisahkan debu emas itu. Tetapi dia belum mengeluarkannya dari wadah, karena kotorannya belum sepenuhnya hilang68 dan emas itu belum benar-benar lentur, dapat diolah dan bersinar; emas itu masih rapuh dan belum dapat dicetak dengan mudah. Tetapi saatnya akan tiba ketika si pandai emas atau pembantunya sekali lagi melelehkannya secara tuntas, sehingga seluruh kotoran pun hilang. Sekarang emas itu benar-benar lentur, dapat diolah dan bersinar, dan dapat dengan mudah dibentuk. Apapun perhiasan yang ingin dibuat oleh pandai emas itu, apakah mahkota, anting-anting, kalung atau rantai emas, emas itu sekarang dapat digunakan untuk tujuan itu.
Demikian pula, para bhikkhu, seorang bhikkhu yang menekuni pelatihan dalam pikiran yang lebih tinggi: di dalam dirinya ada kekotoran yang kasar, yaitu perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran. Perilaku semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.
Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada kekotoran-kekotoran tingkat menengah yang menempel padanya, yaitu buah-buah pikir indera, buah-buah pikir tentang niat jahat dan kekerasan.69 Buah-buah pikir semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.
Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada kekotoran-kekotoran halus yang menempel padanya, yaitu buah-buah pikir tentang sanak saudaranya, negara asalnya; dan reputasinya. Buah-buah pikir semacam itu akan ditinggalkan, disingkirkan, dihilangkan dan dilenyapkan oleh seorang bhikkhu yang tulus dan mampu.
Setelah dia meninggalkan hal-hal ini, masih ada buah-buah pikir tentang keadaan-keadaan mental yang lebih tinggi, yang dialaminya di dalam meditasi.70 Konsentrasi itu belum damai dan tinggi; konsentrasi itu belum mencapai ketenangan yang penuh, belum juga mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini harus dipertahankan dengan cara menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.
Tetapi akan tiba saatnya ketika pikirannya menjadi mantap ke dalam, tenang, terpusat, dan terkonsentrasi. Konsentrasi ini kemudian tenang dan halus; konsentrasi ini telah mencapai ketenangan penuh dan mencapai kesatuan mental; konsentrasi ini tidak dipertahankan dengan menekan kuat-kuat kekotoran batin itu.
Kemudian, menuju keadaan mental apapun yang dapat direalisasikan lewat pengetahuan langsung, dia mengarahkan pikirannya ke sana, dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.71
Jika dia inginkan: “Semoga aku memiliki berbagai macam kekuatan spiritual: sesudah menjadi satu, semoga aku menjadi banyak; sesudah menjadi banyak, semoga aku menjadi satu; semoga aku muncul dan lenyap; pergi tak terhalang menembus dinding, menembus benteng, menembus gunung seolah olah melewati ruang; menyelam masuk dan keluar dari bumi seolah-olah itu adalah air; berjalan diatas air tanpa tenggelam seolah-olah itu adalah tanah; sementara duduk bersila pergi melalui udara bagaikan seekor burung; menyentuh dan membelai rembulan dan matahari dengan tanganku, begitu kuat dan berkuasa; menggunakan penguasaan atas tubuhku bahkan sejauh alam Brahma” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
Jika dia inginkan: “Dengan elemen telinga dewa, yang termurnikan dan melebihi manusia, semoga aku mendengar dua jenis bunyi, yang agung dan yang bersifat manusia, yang jauh dan yang dekat” dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
Jika dia inginkan: “Semoga aku memahami pikiran makhluk lain, manusia lain, sesudah menyelimuti mereka dengan pikiranku. Semoga aku memahami pikiran yang dikuasai nafsu sebagai pikiran yang dikuasai nafsu; pikiran tanpa nafsu sebagai pikiran tanpa nafsu; pikiran dengan kebencian sebagai pikiran dengan kebencian; pikiran tanpa kebencian sebagai pikiran tanpa kebencian; pikiran dengan kebodohan batin sebagai pikiran dengan kebodohan batin; pikiran tanpa kebodohan batin sebagai pikiran tanpa kebodohan batin; pikiran yang mengkerut sebagai pikiran yang mengkerut dan pikiran yang terganggu sebagai yang terganggu; pikiran yang tinggi sebagai yang tinggi dan pikiran yang tidak tinggi sebagai yang tidak tinggi; pikiran yang dapat dilampaui sebagai yang dapat dilampaui dan pikiran yang tidak terlampaui sebagai yang tidak terlampaui; pikiran yang terkonsentrasi sebagai yang terkonsentrasi dan pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai yang tidak terkonsentrasi; pikiran yang terbebas sebagai yang terbebas dan pikiran yang tidak terbebas sebagai pikiran yang tidak terbebas” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
Jika dia inginkan, “Semoga aku dapat mengingat tempat kediaman masa laluku yang berunsur banyak, yaitu satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengerutan-dunia, berkalpa-kalpa pengembangan-dunia, berkalpa-kalpa pengerutan dan pengembangan dunia demikian: ‘Di sana aku bernama ini, dari suku ini, dengan penampilan seperti ini, seperti itu makananku, seperti itu pengalaman kesenangan dan rasa sakitku, seperti itulah masa hidupku; lenyap dari sana, aku terlahir lagi di tempat lain, dan di sana aku bernama demikian, dari suku demikian, dengan penampilan demikian, demikian makananku, seperti itu pengalaman kesenangan dan rasa sakitku, seperti itu masa hidupku; lenyap dari sana, aku terlahir lagi di sini.’ Semoga demikian aku mengingat kembali tempat kediaman masa laluku dengan ciri dan detilnya” – dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
Jika dia inginkan, “Dengan mata dewa, yang termurnikan dan melampaui manusia, semoga aku melihat para mahkluk lenyap dan terlahir lagi, rendah dan tinggi, rupawan dan buruk rupa, beruntung dan sial, dan memahami bagaimana para makhluk itu menjalani kehidupan sesuai dengan kamma mereka, demikian: ‘Makhluk-makhluk yang terlibat perilaku buruk lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, yang menghina orang-orang suci, yang memiliki pandangan salah, dan menjalankan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pandangan salah, bersama hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka terlahir di alam penderitaan, di alam yang buruk, di alam yang rendah, di neraka. Akan tetapi makhluk-makhluk yang terlibat perilaku yang baik lewat tubuh, ucapan, dan pikiran, yang tidak menghina para suci, yang memiliki pandangan benar, dan menjalankan tindakan-tindakan yang didasarkan atas pandangan benar, bersama hancurnya tubuh, setelah kematian, mereka terlahir di alam yang baik, di alam surgawi.’ Demikian dengan mata dewa, yang termurnikan dan melampaui manusia, semoga aku melihat para makhluk lenyap dan terlahir kembali, rendah dan tinggi, rupawan dan buruk rupa, beruntung dan sial, dan memahami bagaimana para makhluk itu menjalani kehidupan sesuai dengan kamma mereka” dan mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi yang diperlukan didapat.
Jika dia inginkan, “Lewat hancurnya noda-noda, semoga aku di dalam kehidupan ini juga masuk dan berdiam di dalam pembebasan pikiran yang tanpa noda, pembebasan lewat kebijaksanaan, merealisasikannya untuk diriku sendiri lewat pengetahuan langsung” dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
(III, 100; §1-10)
42. Pemurnian Pikiran – II
Seorang bhikkhu yang membaktikan diri untuk latihan dalam pikiran yang lebih tingggi dari waktu ke waktu harus memperhatikan tiga hal ini.72 Dari waktu ke waktu dia harus memperhatikan hal konsentrasi, dari waktu ke waktu memperhatikan usaha yang bersemangat, dari waktu ke waktu memperhatikan ketenang seimbangan.73
Jika seorang bhikkhu yang membaktikan diri untuk latihan yang lebih tinggi memberikan perhatian pada konsentrasi saja, ada kemungkinan pikirannya jatuh ke dalam kelambanan. Jika dia memberikan perhatian pada usaha yang bersemangat saja, ada kemungkinan pikirannya akan jatuh ke dalam kegelisahan. Jika dia memberikan perhatian pada ketenang-seimbangan saja, ada kemungkinan pikirannya tidak akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.
Tetapi, jika dari waktu ke waktu dia memperhatikan masing-masing dari tiga hal ini, maka pikirannya akan lentur, dapat dilatih, jernih dan tidak kaku, dan pikirannya itu akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.
Misalnya seorang pandai emas atau pembantunya membuat tungku, menyalakan api di lubangnya, mengambil emas dengan menggunakan tang dan menaruhnya ke tungku. Dari waktu ke waktu dia meniupnya, secara berkala dia memercikkan air, dari waktu ke waktu dia hanya memandangi saja.74 Seandainya pandai emas itu terus menerus meniup emas itu, emas itu akan menjadi terlalu panas. Seandainya dia terus menerus memercikkan air, emas itu akan menjadi terlalu dingin. Seandainya dia hanya memandangi saja, emas itu tidak akan menjadi murni sempurna. Tetapi, jika dari waktu ke waktu si pandai emas memperhatikan masing-masing dari tiga fungsi ini, emas itu akan menjadi lentur, dapat diolah dan bersinar, dan emas itu dapat dengan mudah dicetak. Perhiasan apapun yang ingin dibuat oleh si pandai emas itu, apakah mahkota, anting-anting, kalung atau rantai emas, sekarang emas itu sekarang dapat digunakan untuk tujuan itu.
Demikian pula ada tiga hal yang harus diperhatikan secara berkala oleh seorang bhikkhu yang berlatih dalam pikiran yang lebih tinggi, yaitu hal konsentrasi, usaha yang bersemangat, dan ketenang-seimbangan. Jika dia memberikan perhatian yang teratur ke setiap hal itu, maka pikirannya akan menjadi lentur, dapat dilatih, jernih dan tidak kaku, dan pikirannya itu akan terkonsentrasi dengan baik untuk menghancurkan noda-noda.
Dia mengarahkan pikirannya pada keadaan mental apapun yang dapat direalisasikannya lewat pengetahuan langsung, dan dia mencapai kemampuan merealisasikan keadaan itu lewat pengetahuan langsung, kapanpun kondisi-kondisi yang diperlukan didapat.
(III, 100; §11-15)
43. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – I
O para bhikkhu, sebelum pencerahanku, ketika masih sebagai bodhisatta, buah-pikir ini muncul di dalam pikiranku: “Apakah kepuasan di dunia ini, apakah bahaya di dunia ini, dan apakah jalan keluar dari dunia ini?”75 Kemudian aku berpikir: “Apapun suka cita dan kebahagiaan yang ada di dunia, itulah pemuasan di dunia; bahwa dunia ini tidak kekal, dipenuhi oleh penderitaan dan terkena perubahan, itulah bahaya di dunia ini; hilangnya dan ditinggalkannya nafsu keinginan untuk dunia ini, itulah jalan keluar dari dunia ini:”
Para bhikkhu, selama aku belum sepenuhnya memahami, sebagaimana adanya, pemuasan dunia sebagai pemuasan, bahaya dunia sebagai bahaya, dan jalan keluar dari dunia ini sebagai jalan keluar, selama itu pula tidak kunyatakan bahwa aku telah bangun dan mencapai pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya di dunia dengan para dewa, Mara dan Brahmanya, di dalam generasi ini dengan para petapa dan brahmananya, dengan para dewa dan manusianya.
Tetapi setelah aku sepenuhnya memahami semua ini, kemudian aku nyatakan bahwa aku telah bangun dan mencapai pencerahan sempurna yang tak ada bandingnya di dunia ini dengan… para dewa dan manusianya. Pengetahuan dan visi muncul di dalam diriku: “Tak tergoyahkan pembebasan pikiranku; ini adalah kelahiranku yang terakhir; sekarang tidak ada dumadi lagi.”
(III, 101; §1-2)
44. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – II
Aku telah pergi berkelana mencari pemuasan di dunia ini, O para bhikkhu. Pemuasan apapun yang ada di dunia ini, itu telah kutemukan; dan sejauh mana ada pemuasan di dunia ini, itupun telah kulihat dengan jelas lewat kebijaksanaan.
Aku telah pergi berkelana mencari bahaya di dunia ini. Bahaya apapun yang ada di dunia ini, itu telah kutemukan; dan sejauh mana ada bahaya di dunia ini, itupun telah kulihat dengan jelas lewat kebijaksanaan.
Aku telah pergi berkelana mencari jalan keluar dari dunia ini. Jalan keluar dari dunia ini telah kutemukan; dan sejauh mana ada jalan keluar dari dunia ini, itupun telah kulihat lewat kebijaksanaan.
(III, 101, §3)
45. Pemuasan, Bahaya dan Jalan Keluar – III
Seandainya saja, O para bhikkhu, tidak ada pemuasan di dunia ini, maka para makhluk tidak akan menjadi melekat pada dunia.
Tetapi karena ada pemuasan di dunia ini, maka para makhluk menjadi melekat padanya.
Seandainya saja tidak ada bahaya di dunia ini, maka para makhluk tidak akan kecewa dengan dunia ini. Tetapi karena ada bahaya di dunia ini, maka para makhluk menjadi kecewa dengannya.
Seandainya saja tidak ada jalan keluar dari dunia ini, maka para makhluk tidak akan dapat keluar dari dunia ini, tetapi karena ada jalan keluar dari dunia ini, maka para makhluk dapat keluar darinya.
(III, 102)
46. Di Kuil Gotamaka
Pada suatu ketika Sang Buddha berdiam diri di Kuil Gotamaka, dekat Vesali. Di sana Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu demikian:
“Berdasarkan pengetahuan langsunglah aku mengajarkan Dhamma, O para bhikkhu, bukan tanpa pengetahuan langsung. Dengan dasar yang baik aku mengajarkan Dhamma, bukan tanpa dasar yang baik. Dengan keyakinan aku mengajarkan Dhamma, bukan tanpa keyakinan. Karena itu, para bhikkhu, nasihatku seharusnya diikuti dan petunjukku diterima. Hal ini, para bhikkhu, sudah cukup untuk kepuasan kalian, cukup untuk kegembiraan kalian, cukup untuk suka cita kalian: Sang Bhagava telah sepenuhnya tercerahkan; Dhamma Sang Bhagava telah dibabarkan dengan baik; Sangha telah berperilaku dengan baik.”
Demikianlah kata Sang Buddha. Dengan gembira para bhikkhu itu menyetujui kata-kata Sang Buddha. Ketika khotbah ini disampaikan, beribu-ribu sistem dunia bergetar.76
(III, 123)
47. Bukan Doktrin Rahasia
Tiga hal ini, O para bhikkhu, dilakukan secara rahasia, bukan secara terbuka. Apakah tiga hal itu? Bercinta dengan wanita, hymne para brahmana dan pandangan salah.
Sebaliknya, tiga hal ini, O para bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara rahasia. Apakah yang tiga itu? Lingkaran rembulan, lingkaran matahari, dan Dhamma serta Vinaya yang disampaikan oleh Tathagata.
(III, 129)
48. Tiga Ciri Kehidupan
Apakah para Tathagata muncul di dunia ini atau tidak, masih tetap merupakan suatu kenyataan, suatu kondisi kehidupan yang kokoh dan perlu, bahwa semua bentukan adalah tidak kekal… bahwa semua bentukan terkena penderitaan… bahwa semua hal adalah tanpa diri.77
Satu Tathagata sepenuhnya menyadari kenyataan ini dan menembusnya. Setelah sepenuhnya sadar mengenai hal itu dan menembusnya, Beliau mengumumkannya, mengajarkannya, membuatnya diketahui, menyampaikannya, mengungkapkannya, menganalisisnya dan menjelaskannya: bahwa semua bentukan adalah tidak kekal, bahwa semua bentukan terkena penderitaan, bahwa semua hal adalah tanpa diri.
(III, 134)
49. Hari-hari Yang Bahagia
Para bhikkhu, makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang pagi hari, maka pagi hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.
Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang siang hari, maka siang hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.
Makhluk apapun yang berperilaku benar lewat tubuh, ucapan, dan pikiran sepanjang malam hari, maka malam hari yang bahagia akan menjadi milik mereka.
Sungguh saat yang membawa berkah dan patut dirayakan,
Pagi yang bahagia dan kebangkitan yang penuh sukacita,
Momen-momen yang berharga dan menggembirakan
Akan datang kepada mereka yang memberikan dana
Kepada orang-orang yang menjalankan kehidupan suci.Pada hari seperti itu, tindakan benar lewat ucapan dan perbuatan,
Buah-pikir yang benar dan aspirasi yang luhur,
Memberikan hasil kepada mereka yang melatihnya;
Sungguh bahagia mereka yang memperoleh hasil seperti itu,
Karena mereka telah berkembang dalam Ajaran Sang Buddha.
Semoga engkau dan semua sanak saudaramu
Berbahagia dan menikmati kesehatan yang baik!