No. 173 MAKKAṬA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [68] “Ayah, lihatlah orang tua malang,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang menipu (curang).—Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Uddāla-Jātaka53, Buku XIV. Di sini juga Sang Guru berkata, “Para Bhikkhu, bukan hanya kali ini orang ini menjadi […]
Baca selengkapnya...No. 172 DADDARA-JĀTAKA49 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Siapakah gerangan dengan teriakan yang sangat keras,” dan seterusnya. Ini adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana tentang Kokālika (Kokalika). Dikatakan bahwasanya terdapat beberapa bhikkhu yang pandai di daerah Manosilā, yang berbicara seperti singa-singa muda, cukup keras untuk menurunkan Gangga Surgawi50, [66] ketika melafalkan […]
Baca selengkapnya...No. 171 KALYĀṆA-DHAMMA-JĀTAKA47 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Oh Paduka, ketika orang mengelu-elukan kita,“ dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang seorang ibu mertua yang tuli. Dikatakan bahwa ada seorang tuan tanah di Sāvatthi, seorang yang berkeyakinan, yang percaya, yang telah berlindung di bawah Tiga Permata dan seorang yang menjalankan lima sila. […]
Baca selengkapnya...No. 170 KAKAṆṬAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [63] Kakaṇṭaka-jātaka ini akan diceritakan di bawah, di Kelahiran Mahā-Ummagga-jātaka 46. ____________________ Catatan kaki : 46 No. 538 di Westergaard’s Catalogue.
Baca selengkapnya...No. 169 ARAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Hati dengan perasaan belas kasih yang tak terbatas,” dan seterusnya”. Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang Metta Sutta. Pada suatu kesempatan, Sang Guru menyapa para bhikkhu: “Para Bhikkhu, cinta kasih dengan semua pengabdian pikiran, [61] merenungkannya, meningkatkannya, menjadikan sebuah alat pengembangan, menjadikan tujuan Anda satusatunya, […]
Baca selengkapnya...No. 168 SAKUṆAGGHI-JATAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seekor burung puyuh sedang berada di tempat mencari makan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru di Jetavana, tentang Sakuṇovāda Sutta. Pada suatu hari, Sang Guru memanggil para bhikkhu dan berkata, ”Para Bhikkhu, pada saat kalian mencari sedekah, tetaplah di daerahmu sendiri.” Dan mengulangi sutta itu […]
Baca selengkapnya...No. 167 SAMIDDHI-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center. “Petapa peminta-minta, apakah Anda tahu,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru ketika berdiam di Taman Tapoda dekat Rājagaha, tentang Thera Samiddhi. Suatu hari sang thera bergejolak dengan semangat sepanjang malam. Saat fajar tiba, dia mandi; kemudian berdiri dengan jubah luarnya, sambil memegang yang lainnya di tangannya, […]
Baca selengkapnya...No. 166 UPASĀḶHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Empat belas ribu Upasāḷha,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang brahmana yang bernama Upasāḷha (Upasalha) yang baik dalam hal-hal yang berhubungan dengan pekuburan. Dikatakan bahwasanya orang ini kaya raya, tetapi meskipun dia hidup mengenal wihara, dia tidak menunjukkan sedikitpun […]
Baca selengkapnya...No. 165 NAKULA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Wahai Makhluk, musuhmu sejak dari telur,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru sewaktu berdiam di Jetavana tentang dua orang yang bertengkar. Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Uraga-Jātaka39. Di sini, seperti sebelumnya, kata Sang Guru, “Ini bukan untuk pertama kalinya, Para Bhikkhu, kedua bangsawan ini […]
Baca selengkapnya...No. 164 GIJJHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seekor burung hering bisa melihat bangkai,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan Sang Guru tentang seorang bhikkhu yang menghidupi ibunya. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Sāma-Jātaka 38 . Sang Guru bertanya kepadanya apakah dia, seorang bhikkhu, benar menghidupi umat awam yang masih hidup di dunia ini. Bhikkhu […]
Baca selengkapnya...