No. 299 KOMĀYA-PUTTA-JĀTAKA285 Sumber : Indonesia Tipitaka Center [447] “Tadinya kamu biasa,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Pubbārāma, tentang beberapa bhikkhu yang berkelakuan buruk dan kasar. Bhikkhu-bhikkhu ini, yang tinggal di bawah kamar Sang Guru, membicarakan tentang apa yang telah mereka lihat dan dengar, kemudian mereka jadi bertengkar dan […]
Baca selengkapnya...No. 298 UDUMBARA-JĀTAKA284 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Buah-buah elo telah masak,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu. Dia membangun pertapaannya untuk ditempati di dekat sebuah desa di daerah perbatasan. Kediaman yang menyenangkan ini berada di atas batu yang rata; sebuah sumur dengan air yang cukup […]
Baca selengkapnya...No. 297 KĀMA-VILĀPA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Wahai burung yang terbang,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang godaan (nafsu) oleh mantan istrinya. Cerita pembukanya dikemukakan di dalam Puppharatta-Jātaka 282 dan juga kisah masa lampau di dalam Indriya-Jātaka283. Maka orang ini pun dipasung hidup-hidup. Sewaktu tergantung di sana, […]
Baca selengkapnya...No. 296 SAMUDDA-JĀTAKA280 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Siapakah yang terbang,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang Thera Upananda. Bhikkhu ini adalah seorang pemakan dan peminum yang banyak, tidak ada yang membuatnya puas, bahkan persediaan berupa satu muatan kereta. Selama masa vassa, dia menghabiskan waktunya di dua atau […]
Baca selengkapnya...No. 295 ANTA-JĀTAKA278 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seperti seekor sapi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di tempat yang sama, tentang dua orang yang sama. Cerita pembukanya sama seperti sebelumnya di atas. ____________________ Dahulu kala ketika Brahmadatta adalah Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seorang dewa pohon eraṇḍa279, yang tumbuh di […]
Baca selengkapnya...No. 294 JAMBU-KHĀDAKA-JĀTAKA276 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Siapakah itu yang duduk,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Veḷuvana (Veluvana), tentang Devadatta dan Kokālika. Di saat Devadatta mulai kehilangan perolehan dan ketenaran, Kokālika (Kokalika) pergi dari rumah ke rumah, mengatakan, “Thera Devadatta adalah keturunan dari Mahāsammata, raja agung yang pertama, […]
Baca selengkapnya...No. 293 KĀYA-VICCHINDA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Jatuh diserang oleh penyakit,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seseorang. Diceritakan bahwasanya di Sāvatthi hiduplah seorang laki-laki yang tersiksa karena sakit kuning, yang tidak dapat disembuhkan oleh para tabib, suatu penyakit yang tiada harapan. Istri dan anaknya mengembara untuk […]
Baca selengkapnya...No. 292 SUPATTA-JĀTAKA274 Sumber : Indonesia Tipitaka Center [433] “Di sini, di Kota Benares,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang makanan berupa nasi yang dicampur dengan mentega cair segar, ditambah rasanya dengan ikan merah, yang diberikan oleh Thera Sāriputta kepada Bimbādevī 275. Di dalam kisah ini, sang theri […]
Baca selengkapnya...No. 291 BHADRA-GHAṬA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [431] “Seseorang yang tidak pernah berbuat baik,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang keponakan laki-laki dari Anāthapinṇḍika. Orang ini telah menghamburkan uang warisan sebanyak empat ratus juta emas. Kemudian dia mengunjungi pamannya yang kemudian memberikan kepadanya uang seribu keping […]
Baca selengkapnya...No. 290 SĪLA-VĪMAṀSA-JĀTAKA273 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Moralitas adalah menyenangkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang brahmana yang menguji kekuatan dari moralitas (sila). Cerita pembukanya telah dikemukakan sebelumnya di dalam Buku I. ____________________ Ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, pendeta kerajaannya berkeinginan untuk menguji kekuatan moralitas dirinya […]
Baca selengkapnya...