No. 279 SATAPATTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Seperti pemuda itu yang dalam jalannya,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Paṇḍuka (Panduka) dan Lohitaka. Dari keenam bhikkhu yang menyimpang253 (dari peraturan winaya), dua tinggal di dekat Rājagaha—Mettiya dan Bhummaja, dua tinggal di dekat Kīṭāgiri—Assaji dan Punabbasu, dan dua […]
Baca selengkapnya...No. 278 MAHISA-JĀTAKA252 Sumber : Indonesia Tipitaka Center [385] “Mengapa dengan sabarnya Anda,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seekor kera yang tidak memiliki pengendalian diri. Dikatakan bahwasanya di Sāvatthi, terdapat seekor kera di dalam sebuah keluarga. Kera ini berlari masuk ke dalam kandang gajah, naik ke atas […]
Baca selengkapnya...No. 277 ROMAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [382] “Di sini di perbukitan ini,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Veḷuvana (Veluvana), tentang sebuah upaya pembunuhan. Cerita pembukanya akan menjelaskan kisahnya sendiri. ____________________ Dahulu kala ketika Brahmadatta menjadi Raja Benares, Bodhisatta terlahir sebagai seekor burung dara, dan bersama dengan sekelompok burung […]
Baca selengkapnya...No. 276 KURUDHAMMA-JĀTAKA247 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Karena mengetahui keyakinan,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang membunuh seekor angsa. [366] Dua orang bhikkhu, yang merupakan sahabat karib, yang berasal dari Sāvatthi, telah ditahbiskan dan diupasampada, selalu bepergian bersama-sama. Suatu hari, mereka pergi ke Aciravatī. Setelah […]
Baca selengkapnya...No. 275 RUCIRA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center [365] “Siapakah burung bangau cantik ini,” dan seterusnya.—Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Kisah ini sama seperti kisah sebelumnya di atas. Dan berikut ini adalah bait-bait kalimatnya:— Siapakah burung bangau cantik ini, mengapa dia berbaring di rumah temanku […]
Baca selengkapnya...No. 274 LOLA-JĀTAKA245 Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Anak dari awan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang bhikkhu yang serakah. Dia dibawa ke balai kebenaran, kemudian Sang Guru berkata, “Bukan hanya kali ini dia adalah seorang yang serakah, sebelumnya juga dia adalah seorang yang serakah, dan keserakahannya […]
Baca selengkapnya...No. 272 VYAGGHA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Ketika keakraban teman,” dan seterusnya. [356] Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Kokālika 240. Cerita pembukanya akan dikemukakan di dalam Buku XIII, dan di dalam Takkāriya-Jātaka 241 . Dalam kesempatan ini, Kokālika kembali berkata, “Saya akan membawa Sāriputta dan Moggallāna kembali bersamaku.” […]
Baca selengkapnya...No. 271 UDAPĀNA-DŪSAKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Sumur yang terdapat di dalam hutan ini,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana239, tentang seekor serigala yang mengotori sebuah sumur. Dikatakan bahwasanya seekor serigala biasa mengotori sebuah sumur tempat para bhikkhu mengambil air, dan kemudian melarikan diri. Pada suatu hari, para […]
Baca selengkapnya...No. 270 ULŪKA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Anda sekalian umumkan,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetavana, tentang pertengkaran di antara burung gagak dan burung hantu. Dikatakan bahwasanya pada satu masa yang tidak diketahui kapan pastinya, burung gagak biasa memangsa burung hantu pada siang hari, dan pada malam hari […]
Baca selengkapnya...No. 269 SUJĀTA-JĀTAKA Sumber : Indonesia Tipitaka Center “Mereka yang dilimpahi,” dan seterusnya. Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang Sujātā, menantu dari Anāthapiṇḍika, putri dari seorang saudagar–Dhanañjaya, dan adik bungsu dari Visākhā. Dikatakan bahwasanya wanita itu masuk ke dalam rumah Anāthapiṇḍika dengan penuh kesombongan, karena memikirkan betapa besarnya keluarga tempat […]
Baca selengkapnya...