Category Archives for Tipitaka

Dibebani

VII. DIBEBANI 61 (1) Nama 203 “Apakah yang telah membebani segalanya? Apakah yang paling luas? Apakah satu hal yang memiliki Segalanya di bawah kendalinya?” 204 “Nama telah membebani segalanya: Tak ada yang lebih luas daripada nama.<87> Nama adalah satu hal yang memiliki Segalanya dibawah kendalinya.”121

Baca selengkapnya...

Usia Tua

VI. USIA TUA 51 (1) Usia Tua [Devata:] 183 “Apakah yang baik sampai usia tua? Apakah yang baik ketika mantap? Apakah yang merupakan batu mulia bagi manusia? Apakah yang sulit dicuri para pencuri?” [Yang Terberkahi:] 184 “Moralitas dalah yang baik sampai usia tua; Keyakinan adalah yang baik ketika mantap; Kebijaksanaan adalah yang merupakan batu mulia […]

Baca selengkapnya...

Terbakar

V. TERBAKAR 41 (1) Terbakar Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Kemudian, ketika malam telah larut, satu devata dengan keelokan yang memukau, yang menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Yang Terberkahi. <65> Setelah mendekat, dia memberi hormat kepada Yang Terberkahi, berdiri di satu sisi,dan […]

Baca selengkapnya...

Kelompok Satullapa

IV. KELOMPOK SATULLAPA 31 (1) Dengan yang Baik Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Yang Terberkahi berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Kemudian, ketika malam telah larut, sejumlah devata yang termasukl kelompok Satullapa, dengan keelokan yang memukau, yang menerangi seluruh Hutan Jeta, menghampiri Yang Terberkahi.59 Setelah mendekat, mereka memberi hormat kepada Yang […]

Baca selengkapnya...

Pedang

III. PEDANG 21 (1) Pedang Di Savatthi. Sambil berdiri di satu sisi, devata tersebut mengucapkan syair ini dihadapan Yang Terberkahi: 51 “Bagaikan dihantam oleh pedang, Seolah-oleh kepalanya terbakar, Seorang bhikkhu seharusnya berkelana dengan waspada Untuk meninggalkan nafsu indera.” [Yang Terberkahi:] 52 “Bagaikan dihantam oleh pedang, Seolah-olah kepalanya terbakar, Seorang bhikkhu seharusnya berkelana dengan waspada Untuk […]

Baca selengkapnya...

Nandana

II. NANDANA 11 (1) Nandana Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Di sana Yang Terberkahi berbicara kepada para bhikkhu demikian:”Para bhikkhu!” “Yang Mulia Bhante,” jawab para bhikkhu. Yang Terberkahi berkata demikian: “Pada suatu ketika di masa lalu, para bhikkhu, satu devata dari kelompok […]

Baca selengkapnya...

Buluh

I. BULUH 1 (1) Menyeberangi Banjir Demikianlah yang saya dengar. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di Savatthi di Hutan Jeta, taman Ananthapindika. Kemudian, ketika malam telah larut, satu devata dengan keelokan yang memukau, yang menerangi seluruh Hutan Jeta, mendatangi Yang Terberkahi. Setelah mendekat, dia memberi hormat kepada Yang Terberkahi, berdiri di satu sisi, […]

Baca selengkapnya...

Devatasamyutta

Bab I 1. Devatasamyutta Khotbah-khotbah yang Berhubungan dengan Devata I. Buluh 1 (1) Menyeberangi Banjir 2 (2) Emansipasi 3 (3) Mencapai 4 (4) Waktu Berlalu 5 (5) Berapa Banyak Seseorang Harus Menolong ? 6 (6) Terjaga 7 (7) Belum Menembus 8 (8) Sepenuhnya Kacau 9 (9) Orang Yang Cenderung Sombong 10 (10) Hutan II. Nandana […]

Baca selengkapnya...

Pendahuluan

Pendahuluan Sagathavagga disebut demikian karena semua sutta dalam buku ini mengandung syair, sedikitnya satu, tetapi biasanya lebih. Vagga tersebut dibagi menjadi sebelas samyutta yang seluruhnya berisi 271 sutta. Sebagian besar dari samyutta ini dibagi lagi menjadi beberapa vagga, yang masing-masing biasanya berisi 10 sutta. Di dalam empat samyutta (3,4,6,11), vagga yang terakhir mengandung hanya lima […]

Baca selengkapnya...

Latukikopama Sutta

LATUKIKOPAMA SUTTA Perumpamaan Burung Puyuh Sumber : Majjhima Nikaya 4 Diterjemahkan dari Bahasa Inggris Oleh : Dra. Wena Cintiawati, Dra. Lanny Anggawati Penerbit : Vihara Bodhivamsa, Wisma Dhammaguna, 2007 1. DEMIKIAN YANG SAYA DENGAR. Pada suatu ketika Yang Terberkahi sedang berdiam di negeri suku Anguttarapa di kota mereka yang bernama Apana. 2. Kemudian, ketika hari […]

Baca selengkapnya...